Rezki adalah hal yang ghoib
semua orang tau itu
kalaupun tidak tau, mungkin karena masih kecil belum belajar saja
ghoibnya rezki sama dengan ghoibnya kematian
kematian bisa tiba kapan2 masa
tiada diduga-duga
tidak tahu dengan cara apa
tidak tahu sedang di mana
kematian berlaku tak tertahankan
sedang sakit atau sedang sehat kematian datang menyapa
walaupun sebilah pedang sudah tertancap di dada
walaupun penyakit fisik kronis sekian windu dibawa
tetap saja tidak ada yang tau rahasia kematian menyapa
begitulah juga dengan rezki
apapunlah itu jenis rezkinya
walau makan sepanci banyaknya belum tentu Allah kasih rezki kenyang ke kita
bisa saja kita tidak kenyang-kenyang, padahal makan sudah bekarung-karung beras, karena rezki itu ghoib
walaupun kita sudah belajar keras matematika siang malam
bisa saja kita tidak dikasih rezki ilmu matematika itu oleh Allah, karena rezki itu ghoib
begitu juga dengan rezki materi
hati-hatilah dengan sistem gaji, kita sering lupakan rezki itu ghoib karena sistem gaji
kita yakin saja kalau gaji kita turun setiap bulannya
sehingga keyakinan rezki itu ghoib hanya tinggal olahraga lidah
hati sudah tidak dibawah, roh sudah ditinggal
akan dapat saja tidak tau, apalah lagi berapa jumlahnya
makanya kita patutlah jaga hati dengan sistem penggajian yang ada sekarang ini
sistem yang bisa membuat kita lalai dalam berkhidmat dengan makhluk Allah lainnya
manusia hanyalah berusaha untuk jadi amalan ke kampung akhirat
janganlah risau dengan rezki
allah telah ciptakan kita dengan paket yang sudah komplit
kelahiran kematian jodoh dan rezki sudah ada lauhul mahfuz
Senin, 04 Agustus 2008
Minggu, 27 Juli 2008
Pemimpin yang sebenar, dapat mengenalkan rakyatnya pada Tuhan,takut dan cinta kepada Tuhan, dapat mendidik rakyatnya. Berkasih sayang, mengutamakan orang lain, rasa bersama dan bekerjasama. Maaf bermaafan satu sama lain, bertolak ansur sesama. Cintakan akhirat lebih dari dunia, hingga rakyat sanggup mengorbankan dunianya kerana Akhiratnya.
Senin, 19 Mei 2008
Adakah benar dakwah kita...
Apakah engkau berdakwah atau berdakyah?
Apakah engkau menyampaikan risalah atau membuat jenayah?
Apakah engkau menyampaikan sesuatu dari ALLAH atau mencari nama?Engkau boleh menjawabnya, niat hati engkau, engkau yang tahu
Kalau engkau berdakwah, peribadi engkaulah role modelnya
Bahasa engkau tentulah lemah lembut
Engkau tidak akan mengumpat dan mencerca
Tapi menyedarkan dan menginsafkan manusia
Kalau ada orang yang mengata engkau, tentulah engkau sabar
Jika ada yang memuji engkau, engkau kembalikan kepada ALLAH
Engkau tidak boleh menerimanya dengan gembira
Kalau engkau benar-benar berdakwah,Engkau mengajak kepada Tuhan bukan kepada diri engkau
Kalau engkau benar-benar berdakwah dengan ikhlas
Ramai orang masuk Islam di tangan engkau
Orang yang sudah Islam, Islamnya meningkat setiap masa
Apakah dakwah engkau berkesan atau sebaliknya?
Engkau jawablah sendiri
Berdakwahlah dengan ikhlas, jangan membuat jenayah!
Adab Bersahabat dan Berjiran
Bersahabat biarlah setia
Perasaan sahabat kenalah dijaga
Kepentingannya utamakan dari diri kita
Begitulah kalau mahu bersahabat dengan sesiapa
Jiran kita anggaplah keluarga
Kerana jiran orang yang terdekat dengan kita
Tengok-menengoklah, bantu-membantulah sesama jiran
Kehormatan jiran kenalah dijaga
Keburukan jiran jangan dijaja-jaja
Beri-memberilah sesama jiran tetangga
Ketika jiran tidak ada di rumahnya
Rumahnya kenalah kita jaga
Sikap kita jangan sampai mengganggu jiran kita
Begitulah di antara rukun berjiran dengan kita
Kenapa kita mau jadi pemimpin?
Apalah indahnya kalau kita seorang pemimpin
Yang memuji dan menyanjung itu
Orang yang berpura-pura
Yang inginkan sesuatu dari kita
Apalah hendak dibanggakan
Orang yang mengangguk-angguk di depan kita
Di belakang kita dia mengutuk
Apalah ertinya orang yang membawa itu dan ini kepada kita
Sedangkan niatnya ada udang di sebalik batu
Apalah ertinya kepada kita
Yang menyambut kedatangan kita dan yang berdiri di keliling kita hipokrit belaka
Pengaduannya kepada kita dusta belaka
Yang sejengkal jadi sehasta
Yang sehasta jadi sejengkal
Yang hitam jadi putih
Yang putih jadi hitam
Yang tiada diadakan, yang ada ditiadakan
Ambillah pengajaran masa yang lalu
Beberapa ramai pemimpin yang sudah bersara
Keseorangan diri, tiada yang memperduli
Macam barang buruk, yang tiada berharga
Mana orang kiri kanan?!Mana kawan seperjuangan?!
Ke mana pergi yang memuji dan yang menyanjung
Di mana sekarang yang mengaku setia?!
Mana orang yang bertempik mendengarPidato kita?!
Ke mana perginya orang yang
Mengangguk-angguk membenarkan kita
Mana? Mana? Mana?
Selasa, 08 April 2008
Tidak ada manusia yang dapat menolak bahwa hidup di dunia ini adalah sementara waktu. Di akhir zaman ini paling lama manusia dapat hidup menurut umur dunia, 150 tahun. Setelah itu semua orang percayakan mati, selepas mati pergi ke Akhirat. Banyak orang yang percaya, sedikit sekali yang tidak percaya.
Umat Islam memang percaya bahwa Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan ada kesusahan, cuma kesenangan dan kesusahan di antara dunia dan di akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat bandinganlah walaupun tidak tepat, untuk mudah faham, kalau kesenangan itu macam kita duduk berumah pohon dengan di dalam istana, kalau azabnya pula seperti gigitan semut dengan dimakan oleh singa yang garang.
Batas di antara dunia dengan Akhirat ialah alam kubur atau alam barzakh. Di san di tahan sementara waktu. Di sana juga ada kesusahan dan ada kesenangan macam di dunia juga. Bandingannya seperti batas di antara negara dan negara. Di perbatasan antara negara dengan negara ada kalanya mendapat kesenangan dan ada kalanya mendapat kesusahan. Begitulah keadaan di antara dunia dengan Akhirat, yaitu alam kubur atau alam barzakh.
Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat dan percaya alam barzakh batas antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahwa nikmat dan azab di sana jauh bedanya dengan nikmat dan azab di dunia. Sekiranya Allah Taala rasakan sekarang ini perbandingan itu niscaya manusia ini akan menolak dunia ini secara total dan manusia akan menumpukan seratur persen untuk tujuan Akhirat.
Namun demikian oleh karena manusia itu hidup di dunia lebih dahulu yaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasa dengan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka terlalai, terlupa kehidupan di sana, yaitu negara Akhirat. Oleh yang demikian ini mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelak azab di dunia ini. Diperahlah otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walau susah tapi dapat dihadapi kesusahan itu. Walau menderita dari berbagai-bagai ujian yang dihadapi tapi manusia sanggup berhadapan dengannya. Adakalanya ingin mengejar keuntungan, rugi yang dapat, inginkan kesenangan, susah yang dapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namum manusia tidak jemu-jemu, tidak rasa kecewa dan tidak putus asa, gunakan tenaga yang ada itu buru lagi dunia. Hingga ruangan untuk Akhirat tidak ada sama sekali atau tenaga yang sedikit-sedikit yang tinggal. Itulah untuk Akhirat, itu pun mudah jemu, terasa payah, rasa susah, rasa membeban, terasa terhina, terasa malu membuatnya.
Padahal di dalam pengalaman kita, hendak mengejar Akhirat yang lebih penting dengan dunia yang tidak penting. Akhirat yang istimewa dengan dunia yang murah ini, sangat beda amalan Akhirat. Walau penting, Allah Taala mudahkan, itulah di antara rahmat-Nya agar manusia cenderung ke sana, tapi dunia yang murah ini, amalannya lebih susah dan payah supaya manusia mengambil enteng dan kecil saja dunia ini. Patutnya demikian. Tapi pada manusia rupanya tidak begitu, manusia lebih terasa susah membuat kerja-kerja Akhirat walaupun senang dibandingkan dengan kerja-kerja dunia yang susah itu. Tapi pada manusia dirasa ringan saja dan mudah. Itulah membuktikan tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerja susah dan berat berbanding dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agung itu walaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.
Perbandingan kerja dunia dan kerja akhirat
Mari kita datangkan beberapa contoh-contoh menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan payah, tapi ringan pada manusia karena tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan payah karena tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa perkara sebagai perbandingan seperti di bawah ini.
1. Mana lebih berat, shalat Subuh dua rakaat sekedar 20 menit membawa 30 menit, dengan kerja 8 jam satu hari ? Karena mencari duit ada kalanya kerja buruh, betapa susah, namun ada umat Islam sanggup tidak shalat Subuh sekedar 20-30 menit tapi tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam karena mencari duit.
Umat Islam memang percaya bahwa Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan ada kesusahan, cuma kesenangan dan kesusahan di antara dunia dan di akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat bandinganlah walaupun tidak tepat, untuk mudah faham, kalau kesenangan itu macam kita duduk berumah pohon dengan di dalam istana, kalau azabnya pula seperti gigitan semut dengan dimakan oleh singa yang garang.
Batas di antara dunia dengan Akhirat ialah alam kubur atau alam barzakh. Di san di tahan sementara waktu. Di sana juga ada kesusahan dan ada kesenangan macam di dunia juga. Bandingannya seperti batas di antara negara dan negara. Di perbatasan antara negara dengan negara ada kalanya mendapat kesenangan dan ada kalanya mendapat kesusahan. Begitulah keadaan di antara dunia dengan Akhirat, yaitu alam kubur atau alam barzakh.
Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat dan percaya alam barzakh batas antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahwa nikmat dan azab di sana jauh bedanya dengan nikmat dan azab di dunia. Sekiranya Allah Taala rasakan sekarang ini perbandingan itu niscaya manusia ini akan menolak dunia ini secara total dan manusia akan menumpukan seratur persen untuk tujuan Akhirat.
Namun demikian oleh karena manusia itu hidup di dunia lebih dahulu yaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasa dengan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka terlalai, terlupa kehidupan di sana, yaitu negara Akhirat. Oleh yang demikian ini mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelak azab di dunia ini. Diperahlah otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walau susah tapi dapat dihadapi kesusahan itu. Walau menderita dari berbagai-bagai ujian yang dihadapi tapi manusia sanggup berhadapan dengannya. Adakalanya ingin mengejar keuntungan, rugi yang dapat, inginkan kesenangan, susah yang dapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namum manusia tidak jemu-jemu, tidak rasa kecewa dan tidak putus asa, gunakan tenaga yang ada itu buru lagi dunia. Hingga ruangan untuk Akhirat tidak ada sama sekali atau tenaga yang sedikit-sedikit yang tinggal. Itulah untuk Akhirat, itu pun mudah jemu, terasa payah, rasa susah, rasa membeban, terasa terhina, terasa malu membuatnya.
Padahal di dalam pengalaman kita, hendak mengejar Akhirat yang lebih penting dengan dunia yang tidak penting. Akhirat yang istimewa dengan dunia yang murah ini, sangat beda amalan Akhirat. Walau penting, Allah Taala mudahkan, itulah di antara rahmat-Nya agar manusia cenderung ke sana, tapi dunia yang murah ini, amalannya lebih susah dan payah supaya manusia mengambil enteng dan kecil saja dunia ini. Patutnya demikian. Tapi pada manusia rupanya tidak begitu, manusia lebih terasa susah membuat kerja-kerja Akhirat walaupun senang dibandingkan dengan kerja-kerja dunia yang susah itu. Tapi pada manusia dirasa ringan saja dan mudah. Itulah membuktikan tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerja susah dan berat berbanding dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agung itu walaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.
Perbandingan kerja dunia dan kerja akhirat
Mari kita datangkan beberapa contoh-contoh menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan payah, tapi ringan pada manusia karena tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan payah karena tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa perkara sebagai perbandingan seperti di bawah ini.
1. Mana lebih berat, shalat Subuh dua rakaat sekedar 20 menit membawa 30 menit, dengan kerja 8 jam satu hari ? Karena mencari duit ada kalanya kerja buruh, betapa susah, namun ada umat Islam sanggup tidak shalat Subuh sekedar 20-30 menit tapi tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam karena mencari duit.
2. Mana lebih berat menolong kawan karena Allah Taala mungkin sekedar satu dua jam dibandingkan maraton berjam-jam, kadang-kadang terpaksa naik bukit, menyeberang sungai, menuruni jurang yang terjal karena nama dan glamour. Susah lagi maraton, tapi mudah saja manusia dapat buat. Menolong kawan amat terasa berat.
3. Mana lebih berat di antara hendak memberi maaf kepada orang yang disuruh Allah Taala dengan keinginan naik gunung Kinabalu karena nama dan glamour. Padahal tidak panjat gunung Kinabalu bukan satu kesalahan tapi orang lebih mampu memanjat gunung daripada memberi maaf yang diperintah.
4. Pergi shalat berjamaah bukanlah memakan waktu yang panjang. Tidak juga terlalu jauh karena perintah Allah Taala dan juga tidak meletihkan. Dibandingkan dengan rekreasi dan menghabiskan waktu untuk bergaul bebas di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, di hulu sungai, yang banyak menyita waktu dan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi shalat jemaah tapi sanggup pergi rekreasi. Adakalanya sampai di rumah bertengkar pula dengan isteri karena sakit hati dengan suami.
5. Pergi belajar ke Amerika karena hendakkan ijazah agar dapat makan gaji bertahun-tahun lamanya, tinggal ibu bapa, tinggal tanah air, korban uang berjuta-juta, adakalanya mati di sana. Mana lebih susah dengan belajar agama di mesjid sekedar satu jam untuk membaiki diri, tidak mengorbankan waktu dan uang puluhan juta rupiah, tidak meninggalkan ibu bapa dan tanah air. Tentulah lebih susah di Amerika dibandingkan dengan belajar di mesjid sekedar satu jam. Namun ke Amerika bisa, pergi ke masjid tidak mau pergi.
6. Mana lebih berat hendak berkhidmat dengan ibu dan ayah sekedar mungkin satu dua jam kemudian ibu bapa bagi makan, pakaian dan lain-lain, dibandingkan dengan melayan dan berkhidmat dengan boyfriend atau girlfriend berjam-jam lamanya, berhari-hari, habis duit diperahnya, orang yang melihat pun malu. Adakalanya ia tidak jujur, di belakang kita ada ‘pacar’. Tentu lebih susah melayan pacar daripada ibu dan ayah. Namun orang tidak sanggup berkhidmat dengan ibu ayah tapi lebih sanggup melayan dengan pacar walaupun susah dan payah.
7. Mana lebih berat hendak menderma kepada kelab-kelab hiburan yang menyesatkan, paling kurang 1 juta kalau tidak jatuh status, dengan menderma dengan fakir miskin sekedar sepuluh dua puluh ribu. Tentulah lebih berat menderma ke klab-klab hiburan dan menyesatkan itu daripada hendak bersedekah dengan fakir miskin sekedar sepuluh dua puluh ribu. Namun berat ketika bersedekah, tapi menderma seribu karena nama, sanggup. Adakalanya ketika isteri tahu, dimaki oleh istri, namun walaupun begitu sanggup berhadapan dengan resikonya.
8. Menonton film yang merusak akhlak atau membaca buku novel yang menyesatkan dapat dibuat sampai memakan waktu berjam-jam, kadang-kadang bertengkar dengan ibu bapa atau suami dan isteri. Mana lebih terkorban waktu atau mana lebih susah, daripada berzikir atau membaca Al Quran selama 30 menit. Tentulah terkorban masa menonton film mengarut atau membaca novel mengarut hingga dapat bergaduh daripada berzikir atau membaca Al Quran sekedar 30 menit. Namun orang sanggup menonton film atau membaca novel daripada berzikir atau membaca Al Quran.
9. Mana lebih susah pergi berjudi atau pergi disko sambil meminum arak, dengan menghabiskan waktu dan uang, lalu berkelahi setelah itu dengan isteri hingga kocar-kacir rumah, daripada sanggup menolong tetangga yang susah hanya sekali-sekala yang dapat menimbulkan kasih sayang. Tentulah menolong tetangga lebih mudah tapi orang tidak sanggup berbuat, orang lebih sanggup berjudi dan pergi ke disko, minum arak hingga hancur rumah tangga, bertengkar dan berhutang.
3. Mana lebih berat di antara hendak memberi maaf kepada orang yang disuruh Allah Taala dengan keinginan naik gunung Kinabalu karena nama dan glamour. Padahal tidak panjat gunung Kinabalu bukan satu kesalahan tapi orang lebih mampu memanjat gunung daripada memberi maaf yang diperintah.
4. Pergi shalat berjamaah bukanlah memakan waktu yang panjang. Tidak juga terlalu jauh karena perintah Allah Taala dan juga tidak meletihkan. Dibandingkan dengan rekreasi dan menghabiskan waktu untuk bergaul bebas di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, di hulu sungai, yang banyak menyita waktu dan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi shalat jemaah tapi sanggup pergi rekreasi. Adakalanya sampai di rumah bertengkar pula dengan isteri karena sakit hati dengan suami.
5. Pergi belajar ke Amerika karena hendakkan ijazah agar dapat makan gaji bertahun-tahun lamanya, tinggal ibu bapa, tinggal tanah air, korban uang berjuta-juta, adakalanya mati di sana. Mana lebih susah dengan belajar agama di mesjid sekedar satu jam untuk membaiki diri, tidak mengorbankan waktu dan uang puluhan juta rupiah, tidak meninggalkan ibu bapa dan tanah air. Tentulah lebih susah di Amerika dibandingkan dengan belajar di mesjid sekedar satu jam. Namun ke Amerika bisa, pergi ke masjid tidak mau pergi.
6. Mana lebih berat hendak berkhidmat dengan ibu dan ayah sekedar mungkin satu dua jam kemudian ibu bapa bagi makan, pakaian dan lain-lain, dibandingkan dengan melayan dan berkhidmat dengan boyfriend atau girlfriend berjam-jam lamanya, berhari-hari, habis duit diperahnya, orang yang melihat pun malu. Adakalanya ia tidak jujur, di belakang kita ada ‘pacar’. Tentu lebih susah melayan pacar daripada ibu dan ayah. Namun orang tidak sanggup berkhidmat dengan ibu ayah tapi lebih sanggup melayan dengan pacar walaupun susah dan payah.
7. Mana lebih berat hendak menderma kepada kelab-kelab hiburan yang menyesatkan, paling kurang 1 juta kalau tidak jatuh status, dengan menderma dengan fakir miskin sekedar sepuluh dua puluh ribu. Tentulah lebih berat menderma ke klab-klab hiburan dan menyesatkan itu daripada hendak bersedekah dengan fakir miskin sekedar sepuluh dua puluh ribu. Namun berat ketika bersedekah, tapi menderma seribu karena nama, sanggup. Adakalanya ketika isteri tahu, dimaki oleh istri, namun walaupun begitu sanggup berhadapan dengan resikonya.
8. Menonton film yang merusak akhlak atau membaca buku novel yang menyesatkan dapat dibuat sampai memakan waktu berjam-jam, kadang-kadang bertengkar dengan ibu bapa atau suami dan isteri. Mana lebih terkorban waktu atau mana lebih susah, daripada berzikir atau membaca Al Quran selama 30 menit. Tentulah terkorban masa menonton film mengarut atau membaca novel mengarut hingga dapat bergaduh daripada berzikir atau membaca Al Quran sekedar 30 menit. Namun orang sanggup menonton film atau membaca novel daripada berzikir atau membaca Al Quran.
9. Mana lebih susah pergi berjudi atau pergi disko sambil meminum arak, dengan menghabiskan waktu dan uang, lalu berkelahi setelah itu dengan isteri hingga kocar-kacir rumah, daripada sanggup menolong tetangga yang susah hanya sekali-sekala yang dapat menimbulkan kasih sayang. Tentulah menolong tetangga lebih mudah tapi orang tidak sanggup berbuat, orang lebih sanggup berjudi dan pergi ke disko, minum arak hingga hancur rumah tangga, bertengkar dan berhutang.
10. Orang-orang yang banyak masuk sel, terbunuh, difitnah, ditangkap, diberi malu, dihina dan dicaci-maki oleh orang, mana yang lebih banyak disebabkan mencuri, menipu, membunuh, berzina, merampok, memperjuangkan ideologi, daripada orang-orang yang disebabkan mencari rezeki yang halal dan memperjuangkan Islam. Sudah tentu yang mencari rezeki yang halal dan karena memperjuangkan Islam terlalu sedikit dibandingkan disebabkan melakukan kejahatan tapi karena kejahatan atau dunia, sanggup menerima resiko yang berat, tapi kalau kebaikan dan kebenaran tidak sanggup melakukannya.
Setelah kita mengurai dan membuat perbandingan di antara kerja-kerja Akhirat dengan kerja-kerja dunia, kerja-kerja dunia lebih-lebih lagi yang bersifat mungkar dan maksiat lebih susaha dan lebih berat resiko yang diterima daripada kerja-kerja halal dan kerja-kerja Akhirat namun demikian orang tidak sanggup membuat kerja-kerja Akhirat walaupun mudah dibandingkan membuat kerja-kerja dunia walaupun susah dan payah.
Di sinilah menunjukkan umat Islam hatinya lebih cenderung dengan dunia daripada Akhirat walaupun dunia itu murah dan sementara waktu dibandingkan dengan Akhirat yang istimewa dan kekal abadi. Tepat sekali kata pepatah Melayu, cinta itu buta. Cinta kepada apa pun jadi buta, yang lain tidak nampak lagi, yang lain walaupun cantik dan istimewa tidak ada perhatian lagi. Macam orang sudah jatuh cinta pada seorang perempuan atau seorang lelaki, lupa yang lain, lupa ibu bapa, lupa adik beradik, lupa makan minum, lupa bekerja dan lain-lain lagi. Dan karena cintanya itu sanggup bersusah payah dan sanggup menerima resiko yang berat.
Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup susah payah dengan dunia, sanggup menerima resiko yang berat sekalipun mati karenanya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasa hendak membuatnya karena tidak cinta.
Setelah kita mengkaji bahwa kerja-kerja dunia lebih susah dan berbahaya, lebih berat lagi dan resikonya lebih tinggi dari kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasann yang sebenarnya. Maka banyaklah manusia yang masuk Neraka dari masuk ke Syurga.
Perbandingan azab dunia dan Akhirat
Sesuatu yang pasti terjati, tapi sering dilupakan dan tidak dipedulikan, ialah mati. Yakni berhentinya degupan jantung, lalu berhentilah nafas dan aktivitas lainnya, hingga manusia tidak berguna apa-apa lagi. Walaupun dia seorang profesor, raja atau presiden. Kalau dibiarkan akan busuk dan berkerut, maka terpaksalah ditanam jauh-jauh ke dalam bumi.
Semua orang dulu pasti sudah merasakan mati. Mereka sudah tidak ada lagi di bumi ini. Yang tinggal hanya nama dan sejarah hidup mereka saja. Dan detik itu pasti datang pada setiap orang diantara kita. Ia adalah program yang tidak bisa tidak pasti terjadi, dan kita sering bertanya-tanya: “Kapankah giliranku untuk mati ? Dan apa persediaan yang harus aku lakukan ?”.
Kesakitan sewaktu roh dicabut dari badan oleh Malaikat Izrail seperti ditusuk-tusuk 300 kali dengan mata pedang. Hancur lumat hingga hilang segala-galanya. Rasa haus ketika maut tiba teramat sangat azabnya hingga kalaupun air satu lautan diminum tidak akan puas-puas juga. Tersadar kembali sewaktu berhadapan dengan Munkar dan Nakir. Yakni di satu alam luar yang lain dari alam dunia ini. Alam Barzakh namanya. Alam di mana kita dapat melihat malaikat dan bertanya-tanya dengannya. Alam yang diperlihatkan Syurga dan Neraka. Dan dapat juga melihat ragam manusia di dunia yang belum mati lagi itu.
Hidup di sana kalau bahagia, sangat lama sekali yakni hingga Kiamat, mungkin beribu-ribu tahun. Dan kalau kiamat tiba mungkin beribu-ribu tahun lagi. Dan kalau tersiksa pun begitu jugalah lamanya. Bahagia atau derita tergantung pada berhasil atau tidaknya kita ketika di dunia. Kalau berhasil menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi, maka bahagialah kita. Sebaliknya kalau sewaktu di dunia menjadi hamba nafsu atau syaitan serta berjuang untuk itu, maka malaikat akan mengazab kita di Barzakh sana. Terkurung selama beribu-ribu tahun dalam azab sengsara.
Itu kata Allah dan itulah ketentuan-Nya. Al Quran dan hadis banyak sekali menceritakan tenatng ini dengan sejelas-jelasnya. Lihat contoh-contohnya.
Surat Al Qiyamah, ayat 36-40:
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa dipertanggungjawabkan) ? Bukankah dia dahulu setitis mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah lalu Allah menciptakannya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang yang mati ?
Surat An Naaai’at, ayat 10-14:
“(Orang kafir) berkata “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang sebelumnya ?” Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kamu telah menjadi tulang belulang dan hancur lumat ? Mereka berkata “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu tiupan saja. Maka dengan serta-merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.
Surat An Naazi’at, ayat 34-41:
Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang. Pada hari ketika manusia teringat apa yang telah dikerjakannya dan diperlihatkan Neraka dengan jelas setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Syurga tempat tinggalnya.
Demikianlah kita telah diberitahu seterang-terangnya tentang sesuatu yang bakal terjadi dan menimpa setiap diri. Apa pendapat anda ? Nasib di dunia atau nasib di akhiratkah yang hendak diutamakan ? Sebab orang yang kaya di dunia (tetapi tidak bertaqwa) akan miskin di Akhirat, sedangkan miskin di dunia masih ada tempat tinggal, pakaian dan makan minum. Masih bisa berikhtiar. Sedangkan jika miskin di Akhirat, sesuap makanan pun tidak dapat. Tidak ada seorang pun yang simpati.
Kemiskinan dan penderitaan yang mana yang lebih patut ditakuti. Berusaha keras untuk dunia atau untuk Akhirat yang harus diutamakan ? Rasulullah SAW ketika ditanya:
“Siapakah orang mukmin yang paling cerdik ? Sabda Rasulullah : (orang yang paling cerdik) ialah orang yang banyak mengingat mati”
[ Riwayat Ibnu Majah]
Maka fahamlah kita, keutamaan harus diberikan pada urusan-urusan Akhirat. Sebab mati bisa jadi datang besok. Dan kalaulah hal itu terjadi dalam keadaan kita belum menjalankan tugas yang diamanahkan, kita akan menderita selama-lamanya. Sedangkan untuk dunia, kalau hari ini belum selesai, besok bisa disambung lagi. Kelalaian tentang urusan dunia tidak akan mengakibatkan kerugian yang panjang. Contohnya, kalau urusan yang kita tinggalkan dapat disambung lagi. Kita tidak akan rugi apa-apa. Tapi kalau karena dunia kita tangguhkan sholat, tiba-tiba kita mati sebelum shalat. Sementara akibat meninggalkan shalat dengan sengaja ialah 40 tahun masuk Neraka. Demikian juga halnya kalau kita menimbun duit dalam bank, konon untuk masa depan. Kalau kita sempat tua, mungkin duit itu bisa kita gunakan; itu pun di Akhirat tidak dapat apa-apa. Apa jadinya kalau kita mati sebelum tua, sudahlah duit itu tidak berguna untuk kita di dunia, di Akhirat kita akan menderita karena dosa membekukan harta pemberian Allah. Sedangkan kalau duit itu kita korbankan pada jalan Allah, di dunia lagi kita akan hidup senang. Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah SAW, melalui sabdanya yang artinya:
Berusahalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan berusahalah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati esok hari.
[Riwayat Ibnu Asakir]
Jangan mengartikan hadis ini menyuruh kita bekerja keras di dunia saja; bekerja keraslah juga untuk Akhirat. Maksud yang sebenarnya ialah urusan dunia karena masih lama lagi (masih ada waktu) bisa ditangguhkan atau dikemudiankan; sedangkan untuk Akhirat, karena bisa jadi mati esok, harus disegerakan atau didahulukan.
Ingatlah mati dan akibatnya. Ia dahsyat, hebat dan menakutkan pada yang mati dan untuk yang tinggal. Secara kasar kita sudah ceritakan hal sesudah mati, untuk yang mati dan akan mati. Mari kita lihat akibat mati pada yang hidup. Betapa hebat dan menakutkan!
Demikianlah dahsyatnya akibat kematian; ngeri dan menakutkan. Sebut saja mati, orang yang tidak beriman sangat benci. Sebaliknya orang yang beriman akan insyaf; sedangkan para kekasih Allah merasakan mati itu indah karena saat pertemuan dengan Allah sudah tiba. Betul-betullah mati itu sebagai guru. Sabda Rasulullah:
Terjemahannya:
“Cukuplah kematian itu sebagai nasehat”
[Riwayat At Tabrani]
Kenapa Allah jadikan mati begitu dahsyat ? Jawabannya supaya manusia memberi perhatian serius. Sebab biasanya satu hal yang besar dan dahsyat sangat diberi perhatian oleh manusia. Begitulah sepatutnya dengan mati. Oleh karena akibatnya terlalu dahsyat pada yang mati dan yang hidup, tentu kita tidak bisa berbuat seolah-olah tak tahu saja. Haruslah berusaha dan bersedia dengan sebaik-baiknya, agar takdir Allah itu (ujian) dapat dihadapi dengan baik dan berhasil.
Ibarat kita akan menghadapi suatu tes ujian kenaikan yang besar dan penting. Tentu kita akan siap sedia dengan bersungguh-sungguh menghadapinya karena mengharapkan kejayaan. Demikiankan halnya dengan mati ini. Iman dan taqwa, amal sholeh dan akhlak mulia dengan Allah dan dengan manusia adalah syarat penting untuk selamat baik untuk yang pergi atau yang ditinggal. Yang pergi selamat di kubur, yang ditinggal tidak menderia. Iman dan taqwa akan jadi penghiburnya.
Setelah kita mengurai dan membuat perbandingan di antara kerja-kerja Akhirat dengan kerja-kerja dunia, kerja-kerja dunia lebih-lebih lagi yang bersifat mungkar dan maksiat lebih susaha dan lebih berat resiko yang diterima daripada kerja-kerja halal dan kerja-kerja Akhirat namun demikian orang tidak sanggup membuat kerja-kerja Akhirat walaupun mudah dibandingkan membuat kerja-kerja dunia walaupun susah dan payah.
Di sinilah menunjukkan umat Islam hatinya lebih cenderung dengan dunia daripada Akhirat walaupun dunia itu murah dan sementara waktu dibandingkan dengan Akhirat yang istimewa dan kekal abadi. Tepat sekali kata pepatah Melayu, cinta itu buta. Cinta kepada apa pun jadi buta, yang lain tidak nampak lagi, yang lain walaupun cantik dan istimewa tidak ada perhatian lagi. Macam orang sudah jatuh cinta pada seorang perempuan atau seorang lelaki, lupa yang lain, lupa ibu bapa, lupa adik beradik, lupa makan minum, lupa bekerja dan lain-lain lagi. Dan karena cintanya itu sanggup bersusah payah dan sanggup menerima resiko yang berat.
Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup susah payah dengan dunia, sanggup menerima resiko yang berat sekalipun mati karenanya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasa hendak membuatnya karena tidak cinta.
Setelah kita mengkaji bahwa kerja-kerja dunia lebih susah dan berbahaya, lebih berat lagi dan resikonya lebih tinggi dari kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasann yang sebenarnya. Maka banyaklah manusia yang masuk Neraka dari masuk ke Syurga.
Perbandingan azab dunia dan Akhirat
Sesuatu yang pasti terjati, tapi sering dilupakan dan tidak dipedulikan, ialah mati. Yakni berhentinya degupan jantung, lalu berhentilah nafas dan aktivitas lainnya, hingga manusia tidak berguna apa-apa lagi. Walaupun dia seorang profesor, raja atau presiden. Kalau dibiarkan akan busuk dan berkerut, maka terpaksalah ditanam jauh-jauh ke dalam bumi.
Semua orang dulu pasti sudah merasakan mati. Mereka sudah tidak ada lagi di bumi ini. Yang tinggal hanya nama dan sejarah hidup mereka saja. Dan detik itu pasti datang pada setiap orang diantara kita. Ia adalah program yang tidak bisa tidak pasti terjadi, dan kita sering bertanya-tanya: “Kapankah giliranku untuk mati ? Dan apa persediaan yang harus aku lakukan ?”.
Kesakitan sewaktu roh dicabut dari badan oleh Malaikat Izrail seperti ditusuk-tusuk 300 kali dengan mata pedang. Hancur lumat hingga hilang segala-galanya. Rasa haus ketika maut tiba teramat sangat azabnya hingga kalaupun air satu lautan diminum tidak akan puas-puas juga. Tersadar kembali sewaktu berhadapan dengan Munkar dan Nakir. Yakni di satu alam luar yang lain dari alam dunia ini. Alam Barzakh namanya. Alam di mana kita dapat melihat malaikat dan bertanya-tanya dengannya. Alam yang diperlihatkan Syurga dan Neraka. Dan dapat juga melihat ragam manusia di dunia yang belum mati lagi itu.
Hidup di sana kalau bahagia, sangat lama sekali yakni hingga Kiamat, mungkin beribu-ribu tahun. Dan kalau kiamat tiba mungkin beribu-ribu tahun lagi. Dan kalau tersiksa pun begitu jugalah lamanya. Bahagia atau derita tergantung pada berhasil atau tidaknya kita ketika di dunia. Kalau berhasil menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi, maka bahagialah kita. Sebaliknya kalau sewaktu di dunia menjadi hamba nafsu atau syaitan serta berjuang untuk itu, maka malaikat akan mengazab kita di Barzakh sana. Terkurung selama beribu-ribu tahun dalam azab sengsara.
Itu kata Allah dan itulah ketentuan-Nya. Al Quran dan hadis banyak sekali menceritakan tenatng ini dengan sejelas-jelasnya. Lihat contoh-contohnya.
Surat Al Qiyamah, ayat 36-40:
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa dipertanggungjawabkan) ? Bukankah dia dahulu setitis mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah lalu Allah menciptakannya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang yang mati ?
Surat An Naaai’at, ayat 10-14:
“(Orang kafir) berkata “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang sebelumnya ?” Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kamu telah menjadi tulang belulang dan hancur lumat ? Mereka berkata “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu tiupan saja. Maka dengan serta-merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.
Surat An Naazi’at, ayat 34-41:
Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang. Pada hari ketika manusia teringat apa yang telah dikerjakannya dan diperlihatkan Neraka dengan jelas setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Syurga tempat tinggalnya.
Demikianlah kita telah diberitahu seterang-terangnya tentang sesuatu yang bakal terjadi dan menimpa setiap diri. Apa pendapat anda ? Nasib di dunia atau nasib di akhiratkah yang hendak diutamakan ? Sebab orang yang kaya di dunia (tetapi tidak bertaqwa) akan miskin di Akhirat, sedangkan miskin di dunia masih ada tempat tinggal, pakaian dan makan minum. Masih bisa berikhtiar. Sedangkan jika miskin di Akhirat, sesuap makanan pun tidak dapat. Tidak ada seorang pun yang simpati.
Kemiskinan dan penderitaan yang mana yang lebih patut ditakuti. Berusaha keras untuk dunia atau untuk Akhirat yang harus diutamakan ? Rasulullah SAW ketika ditanya:
“Siapakah orang mukmin yang paling cerdik ? Sabda Rasulullah : (orang yang paling cerdik) ialah orang yang banyak mengingat mati”
[ Riwayat Ibnu Majah]
Maka fahamlah kita, keutamaan harus diberikan pada urusan-urusan Akhirat. Sebab mati bisa jadi datang besok. Dan kalaulah hal itu terjadi dalam keadaan kita belum menjalankan tugas yang diamanahkan, kita akan menderita selama-lamanya. Sedangkan untuk dunia, kalau hari ini belum selesai, besok bisa disambung lagi. Kelalaian tentang urusan dunia tidak akan mengakibatkan kerugian yang panjang. Contohnya, kalau urusan yang kita tinggalkan dapat disambung lagi. Kita tidak akan rugi apa-apa. Tapi kalau karena dunia kita tangguhkan sholat, tiba-tiba kita mati sebelum shalat. Sementara akibat meninggalkan shalat dengan sengaja ialah 40 tahun masuk Neraka. Demikian juga halnya kalau kita menimbun duit dalam bank, konon untuk masa depan. Kalau kita sempat tua, mungkin duit itu bisa kita gunakan; itu pun di Akhirat tidak dapat apa-apa. Apa jadinya kalau kita mati sebelum tua, sudahlah duit itu tidak berguna untuk kita di dunia, di Akhirat kita akan menderita karena dosa membekukan harta pemberian Allah. Sedangkan kalau duit itu kita korbankan pada jalan Allah, di dunia lagi kita akan hidup senang. Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah SAW, melalui sabdanya yang artinya:
Berusahalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan berusahalah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati esok hari.
[Riwayat Ibnu Asakir]
Jangan mengartikan hadis ini menyuruh kita bekerja keras di dunia saja; bekerja keraslah juga untuk Akhirat. Maksud yang sebenarnya ialah urusan dunia karena masih lama lagi (masih ada waktu) bisa ditangguhkan atau dikemudiankan; sedangkan untuk Akhirat, karena bisa jadi mati esok, harus disegerakan atau didahulukan.
Ingatlah mati dan akibatnya. Ia dahsyat, hebat dan menakutkan pada yang mati dan untuk yang tinggal. Secara kasar kita sudah ceritakan hal sesudah mati, untuk yang mati dan akan mati. Mari kita lihat akibat mati pada yang hidup. Betapa hebat dan menakutkan!
Demikianlah dahsyatnya akibat kematian; ngeri dan menakutkan. Sebut saja mati, orang yang tidak beriman sangat benci. Sebaliknya orang yang beriman akan insyaf; sedangkan para kekasih Allah merasakan mati itu indah karena saat pertemuan dengan Allah sudah tiba. Betul-betullah mati itu sebagai guru. Sabda Rasulullah:
Terjemahannya:
“Cukuplah kematian itu sebagai nasehat”
[Riwayat At Tabrani]
Kenapa Allah jadikan mati begitu dahsyat ? Jawabannya supaya manusia memberi perhatian serius. Sebab biasanya satu hal yang besar dan dahsyat sangat diberi perhatian oleh manusia. Begitulah sepatutnya dengan mati. Oleh karena akibatnya terlalu dahsyat pada yang mati dan yang hidup, tentu kita tidak bisa berbuat seolah-olah tak tahu saja. Haruslah berusaha dan bersedia dengan sebaik-baiknya, agar takdir Allah itu (ujian) dapat dihadapi dengan baik dan berhasil.
Ibarat kita akan menghadapi suatu tes ujian kenaikan yang besar dan penting. Tentu kita akan siap sedia dengan bersungguh-sungguh menghadapinya karena mengharapkan kejayaan. Demikiankan halnya dengan mati ini. Iman dan taqwa, amal sholeh dan akhlak mulia dengan Allah dan dengan manusia adalah syarat penting untuk selamat baik untuk yang pergi atau yang ditinggal. Yang pergi selamat di kubur, yang ditinggal tidak menderia. Iman dan taqwa akan jadi penghiburnya.
Keindahan Islam
ALLAH SWT berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”
[Ali Imran : 19]
Satu-satunya agama yang Allah akui kebenarannya, kesempurnaannya dan terbaik untuk manusia adalah Islam. Sebab Islam itu ialah agama yang datang dari Allah, sedangkan agama-agama lain adalah bikinan manusia semata-mata. Adakah sama sesuatu yang datang dari Allah dengan sesuatu yang direka oleh manusia ? jauh, jauh sekali bedanya.
Allah adalah pencipta manusia, karena itulah Allah lah yang paling tahu tentang manusia. Oleh karenanya aturan/agama Allah itulah yang paling lengkap dan paling sesuai dengan kejaian semula jadi (fitrah manusia).
Diri manusia terdiri dari 3 unsur, yaitu fisik, akal dan Roh/hati/jiwa. Roh/hati/jiwa manusia mempunyai perasaan yang Tuhan bekalkan bersamaan dengan lahirnya fisik manusia. Indahnya Islam itu adalah dinul Islamitu sebenarnya sangat sesuai dengan fitrah manusia, dengan kata lain sesuai dengan perasaan manusia. Apa yang hati manusia setuju, itulah yang Allah suruh. Apa yang hati tidak setuju, itulah yang Allah larang.
Kemudian oleh Allah, Rasul diutus untuk membawa perintah untuk membenarkan apa yang ada dalam fitrah manusia, menyuburkan apa yang telah ada. Karena itulah Islam itu indah sebab memberi makanan pada roh. Apa yang roh kehendaki, itu yang dihidangkan oleh Islam. Seperti makanan untuk fisik manusia, kita suka daging, tiba-tiba terhidang daging, betapa indahnya. Kita suka ikan, dihidangkan ikan, betapa indahnya. Tapi ketika kita ingin daging dihidangkan lauk yang kita tidak suka, tidak indah.
Mari kita sebut contoh-contohnya.
1. Yang berhubungan dengan Aqidah.
Manusia sifatnya suka menghambakan diri kepada tuannya yang menolong, melindungi dan yang memperhatikan dirinya. Atau dengan kata lain manusia rela mengabdikan diri kepada siapa yang dicintainya. Kalau kecintaannya itu perempuan maka ia akan menjadi hamba pada perempuan itu. Kalau kecintaannya pada mobil mewah, maka menghambalah ia pada mobil mewah. Kalau cintanya atau pautannya pada nafsu yakni menurut kata nafsu, jadilah ia seorang hamba nafsu.
Tapi aneh, manusia sangat marah kalah dijuluki hamba wanita, hamba mobil atau hamba nafsu. Fitrah menolak sekalipun sikapnya memang betul begitu. Mengapa ? Sebab fitrah manusia ingin menjadi hamba Allah. Dan keinginan menjadi hamba selain Allah itu bukan fitrah. Katakanlah kepada siapa saja tanpa memandang orang kafir atau Islam, “Kamu ini hamba Allah”, niscaya ia mengiyakan dan rasa senang dengan kata-kata itu baik di mulut atau di hati. Hal ini adalah karena fitrah manusia telah Allah ciptakan untuk menyembah-Nya dan untuk menghambakan diri kepada-Nya. Lihat firman-Nya :
“Tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku”
[Az-Zaariat : 56]
Allah mau manusia menyembah-Nya dan tidak pada yang lain. Maka dijadikan fitrah manusia itu mempunyai rasa bertuhan dan menghamba diri pada-Nya. Tanyakanlah pada orang-orang yang menyembah Allah atau tidak menyembah Allah, adalah dia ingin menyembah Allah dan suka pada orang-orang yang menyembah Allah. Niscaya mereka menjawab memang suka. Suka pada pekerjaan menyembah Allah dan suka pada orang yang melakukannya. Cuma kalau mereka tidak melakukannya, itu bukan karena benci, atau hati tidak mengakui, tetapi karena nafsu dan syaitan menghalangi dan melalaikan mereka. Mereka tidak kuasa melawan nafsu (yang sifatnya ego), lalu menurutinya. Kalaulah bukan karena nafsu dan syaitan, niscaya manusia ini akan senantiasa merindukan dan membesarkan Tuhannya dan sangat taat pada-Nya. Fitrah roh sudah kenal Allah dan mengaku untuk menyembah-Nya. Di dalam Al-Quran ada menceritakan hakikat ini :
“Allah bertanya kepada roh : “Bukankah Aku Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi”
[Al A’raf : 172]
2. Yang berhubungan dengan Syariat.
2.1. Manusia ingin menambah ilmu. Ingin mencari pengalaman dan ingin pandai, dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Manusia tidak mau hidup beku, jahil dan miskin papa. Itu adalah fitrah. Semua orang memilikinya walau apa pun juga bangsa dan agamanya. Memang Allah jadikan jiwa manusia begitu kemauannya. Oleh karena itu Allah datangkan agama Islam yang mengajar supaya manusia mengisi tuntutan fitrah itu. Firman Allah :
Katakanlah : “Berjalanlah kamu di muka bumi, kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang yan mendustakan itu.”
[Al An’am : 11]
Artinya kita disuruh mengembara untuk mencari pengalaman. Rasulullah SAW bersabda:
“Menuntut ilmu wajib bagi lelaki dan wanita”
(Riwayat Ibnu Abdi Al Barri)
Sabdanya lagi :
“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”
Begitulah yang dikatakan Islam agama fitrah. Yakni apabila sesuatu itu disukai oleh fitrah maka Islam mendorong atau membenarkannya. Disebabkan Allah yang menjadikan fitrah manusia itu demikian maka Allah pun datangkan cara bagaimana keinginann fitrah itu disalurkan. Tanpa petunjuk dari Allah, nafsulah yang akan memimpin manusia untuk melaksanakan kehendak fitrah itu secara membabi buta. Kesannya akan buruk sekali.
Misalnya apabila ilmu yang dituntut itu ilmu yang haram (ilmu sihir atau ilmu yang tidak dikaitkan dengan tauhid dan jiwa sufi) maka ia akan membawa akibat buruk. Walaupun adakalanya ilmu itu bersumber dari Islam, tetapi tanpa dikaitkan dengan tauhid dan akhlak, ia akan menyebabkan manusia sombong, dengki, bakhil, pemarah, rasuah, dan lain-lain.
Demikian juga halnya kalau mengembara yang tidak dikendalikan oleh syariah atau tidak diniatkan karena Allah atau untuk kebaikan ia akan membawa hasil yang buruk. Sebab itu Islam menurunkan panduan-panduan yang rapi dalam melaksanakan tuntutan fitrah itu.
2.2. Dalam mencari kekayaan yang diinginkan oleh fitrah murni manusia misalnya, Islam tidak melarangnya. Malah Allah mendorong dengan firman-Nya :
”Apabila telah ditunaikan shalat hendaknya kamu bertebaran di muka bumi dan hendaklah kamu cari kurniaan Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak moga-moga kamu dapat kemenangan”
[Al Jumaah : 10]
Nabi SAW bersabda yang artinya :
“Berniagalah karena sembilan puluh persen dari rezeki itu ada dalam perniagaan”
Tapi mencari harta tidaklah boleh dibuat secara sewenang-wenang. Islam mengatur cara-cara yang bersih dari riba, penipuan dan tindas-menindas, karena hal-hal yang buruk itu bertentangan dengan fitrah. Hasilnya tidak untuk berfoya-foya, berjudi atau membekukannya dalam bank, tapi untuk kebaikan seperti membantu fakir miskin, membangun proyek yang memenuhi keperluan masyarakat atau membantu usaha jihad fisabilillah. Hal ini diatur begitu rupa karena ia sesuai dengan fitrah. Sebaliknya apa yang Islam halangi adalah bertentangan dengan fitrah.
2.3. Siapa saja, tanpa melihat apakah orang itu Islam atau yang bukan Islam suka kepada makanan sedap; lelaki suka pada perempuan, perempuan suka pada lelaki; ingin mempunyai badan yang sehat dan pikiran yang waras. Begitulah fitrah manusia. Kalau keinginan fitrah ini tidak tercapai, manusia akan rasa susah dukacita dan gelisah. Allah yang menciptakan manusai sedemikian rupa, tahu cara yang sebaik-baiknya untuk manusia mencapai keinginan-keinginan itu, dan tahu juga cara-cara yang dapat merusakkan manusa dalam usaha mereka mencapai keinginan-keinginan itu. Oleh sebab itu Allah rela menurunkan petunjuk bagaimana keinginan itu bisa dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Islam tidak menghalangi keinginan fitrah tetapi tidak juga terlalu membiarkan keinginan itu dipenuhi secara membabi buta. Makan sedap, misalnya, diperbolehkan dengan syarat Jangan makan makanan yang haram atau berlebihan. Malah, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sunat hukumnya makan daging seminggu sekali.
Demikian juga Islam menunaikan keinginan fitrah manusia untuk menikah. Ia memang dianjurkan oleh Rasulullah SAW :
“Menikah itu adalah Sunnahku, siapa yang benci pada Sunnahku ini bukanlah ia dari umatku”
Hadis lain berbunyi :
“Dua rakaat shalat orang yang menikah lebih baik dari 70 rakaat shalat orang bujang”
Demikianlah indahnya Islam. Dalam usaha mengelakkan masalah dalam perkawinan, maka ditentukan syarat rukunnya yang wajib dipenuhi. Tanpa memenuhi syarat, rumah tangga akan goyang dan tumbang. Islam membenarkan menikah dan mengharamkan zina. Sebab zina akan menzalimi dan menganiaya kaum wanita. Anak hasil perzinaan yang tidak tentu bapaknya ini akan terlunta-lunta hidupnya. Ke mana anak itu akan membawa diri ? Hal ini tidak ada siapapun yang suka. Fitrah menolak. Sebab itulah Allah mengharamkannya karena ia bertentangan dengan fitrah. Bagaimana tidak, seseorang yang berzina itu akan melibatkan baik itu ibu orang atau isteri orang atau anak perempuan orang. Siapa pun akan marah kalau keluarganya yang terlibat. Kalau begitu sanggupkah kita berzina sedangkan kita sendiri tidak suka perkara itu terjadi dalam keluarga kita ?
Dalam Islam ada kaedah :
Tidak mudharat dan tidak memberi mudharat.
Contohnya “
1. Kawin boleh, tapi jangan dengan isteri orang.
2. Kaya boleh, tapi jangan cara mencuri atau menipu uang rakyat.
Tidak ada orang, baik itu Islam atau bukan Islam, yang menganggap zina itu baik. Kalau terjadi juga, itu karena manusia sudah jadi syaitdan dan nafsunya sudah jahat sekali. Namun hati kecilnya tetap menolak; artinya dia senantiasa dalam keadaan melawan hati kecilnya. Orang ini tidak tenang hidupnya. Dia diburu rasa bersalah dan berdosa sepanjang masa.
2.4. Akhlak yang baik, budi pekerti yang mulia yakni berbuat kebaikan sesama manusia sehingga dapat menghibur hati manusa, semua orang suka. Bagi orang yang suka menyakiti hati orang lain sebetulnya dia pun tidak mau orang lain menyakiti hatinya dan suka kalau ia dihibur. Begitulah fitrah. Maka Islam agama fitrah ini datang memerintahkan agar manusia berakhlak baik sesama manusia. Sabda Rasulullah SAW, Sebaik-baik manusia ialah manusia yang paling banyak membuat kebaikan untuk manusia lain.
Dengan itu, siapa saja yang berakhlak buruk dengan sesama manusia, seperti sombong, bakhil, hasad dan lain-lain, berarti dia menentang Allah dan juga menentang fitrahnya. Orang begini bukan saja dimurkai Allah tapi dia membenci dirinya sendiri. Hidupnya tidak akan tenang dunia akhirat.
Kalau manusia saling mengisi fitrah, aman damailah masyarakat. Tapi apa yang terjadi sekarang kita susahkan orang tapi minta orang jangan susahkan kita. Al hasil sengketa semakin merata.
Begitulah uraian tentang indahnya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Dan siapa yang tidak ikut Islam artinya menentang fitrahnya. Walaupun mereka kaya-raya, mempunyai jabatan tinggi dan banyak ilmu, tidak akan tenang hidup mereka di dunia apalagi di akhirat. Karena bukan saja dia bermusuhan dengan Allah tapi juga bermusuhan dengan dirinya sendiri. Pada lahirnya manusia nampak ia senang-senang tapi hatinya hanya Allah saja yang tahu; kosong, gelisah, tersiksa, serba salah dan mudah marah.
Di Barat hari ini, orang yang kelihatan bijak pandai dan hidup senang dilaporkan banyak yang terkena sakit jiwa. Sehingga jumlah orang yang masuk rumah sakit jiwa melebihi jumlah orang yang masuk ke universtas dan kolej. Di Timur, umat Islam yang sudah rusak imannya karena terlalu menuruti nafsunya sedang menghadapi hal yang sama. Cara hidup yang mereka pilih telah menghantarkan mereka ke lembah masalah dan kesusahan.
Hanya Islam satu-satunya agama yang sistem hidupnya benar dan terbaik untuk diikuti. Yakni kehidupan Sunnah yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin serta semua salafussoleh. Dengan mencontohi mereka, niscaya manusia akan kembali kepada fitrah murninya dan akan bahagia di dunia dan akhirat. Antara ciri-ciri hidup mereka adalah :
1. Beriman dan bertaqwa
2. Beribadah dan berzikir.
3. Berakhlak mulia dengan Allah dan sesama manusia.
4. Berjuang dan berjihad dengan Allah dan sesama manusia.
5. Berkorban pada jalan Allah.
6. Menuntut ilmu dunia dan akhirat untuk melaksanakannya.
7. Bekerja mencari rezeki yang halal, di samping membangunkan tamadun ummah.
8. Taat dan patuh pada Allah, pada Rasul dan pada pemimpin yang taat kepada Allah.
9. Berkasih sayang.
10. Saling membantu dalah kebaikan dan menolak kejahatan.
11. Bermaaf-maafan.
12. Bertenggang rasa di seputar masalah atau di sudut-sudut yang dibolehkan.
“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”
[Ali Imran : 19]
Satu-satunya agama yang Allah akui kebenarannya, kesempurnaannya dan terbaik untuk manusia adalah Islam. Sebab Islam itu ialah agama yang datang dari Allah, sedangkan agama-agama lain adalah bikinan manusia semata-mata. Adakah sama sesuatu yang datang dari Allah dengan sesuatu yang direka oleh manusia ? jauh, jauh sekali bedanya.
Allah adalah pencipta manusia, karena itulah Allah lah yang paling tahu tentang manusia. Oleh karenanya aturan/agama Allah itulah yang paling lengkap dan paling sesuai dengan kejaian semula jadi (fitrah manusia).
Diri manusia terdiri dari 3 unsur, yaitu fisik, akal dan Roh/hati/jiwa. Roh/hati/jiwa manusia mempunyai perasaan yang Tuhan bekalkan bersamaan dengan lahirnya fisik manusia. Indahnya Islam itu adalah dinul Islamitu sebenarnya sangat sesuai dengan fitrah manusia, dengan kata lain sesuai dengan perasaan manusia. Apa yang hati manusia setuju, itulah yang Allah suruh. Apa yang hati tidak setuju, itulah yang Allah larang.
Kemudian oleh Allah, Rasul diutus untuk membawa perintah untuk membenarkan apa yang ada dalam fitrah manusia, menyuburkan apa yang telah ada. Karena itulah Islam itu indah sebab memberi makanan pada roh. Apa yang roh kehendaki, itu yang dihidangkan oleh Islam. Seperti makanan untuk fisik manusia, kita suka daging, tiba-tiba terhidang daging, betapa indahnya. Kita suka ikan, dihidangkan ikan, betapa indahnya. Tapi ketika kita ingin daging dihidangkan lauk yang kita tidak suka, tidak indah.
Mari kita sebut contoh-contohnya.
1. Yang berhubungan dengan Aqidah.
Manusia sifatnya suka menghambakan diri kepada tuannya yang menolong, melindungi dan yang memperhatikan dirinya. Atau dengan kata lain manusia rela mengabdikan diri kepada siapa yang dicintainya. Kalau kecintaannya itu perempuan maka ia akan menjadi hamba pada perempuan itu. Kalau kecintaannya pada mobil mewah, maka menghambalah ia pada mobil mewah. Kalau cintanya atau pautannya pada nafsu yakni menurut kata nafsu, jadilah ia seorang hamba nafsu.
Tapi aneh, manusia sangat marah kalah dijuluki hamba wanita, hamba mobil atau hamba nafsu. Fitrah menolak sekalipun sikapnya memang betul begitu. Mengapa ? Sebab fitrah manusia ingin menjadi hamba Allah. Dan keinginan menjadi hamba selain Allah itu bukan fitrah. Katakanlah kepada siapa saja tanpa memandang orang kafir atau Islam, “Kamu ini hamba Allah”, niscaya ia mengiyakan dan rasa senang dengan kata-kata itu baik di mulut atau di hati. Hal ini adalah karena fitrah manusia telah Allah ciptakan untuk menyembah-Nya dan untuk menghambakan diri kepada-Nya. Lihat firman-Nya :
“Tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku”
[Az-Zaariat : 56]
Allah mau manusia menyembah-Nya dan tidak pada yang lain. Maka dijadikan fitrah manusia itu mempunyai rasa bertuhan dan menghamba diri pada-Nya. Tanyakanlah pada orang-orang yang menyembah Allah atau tidak menyembah Allah, adalah dia ingin menyembah Allah dan suka pada orang-orang yang menyembah Allah. Niscaya mereka menjawab memang suka. Suka pada pekerjaan menyembah Allah dan suka pada orang yang melakukannya. Cuma kalau mereka tidak melakukannya, itu bukan karena benci, atau hati tidak mengakui, tetapi karena nafsu dan syaitan menghalangi dan melalaikan mereka. Mereka tidak kuasa melawan nafsu (yang sifatnya ego), lalu menurutinya. Kalaulah bukan karena nafsu dan syaitan, niscaya manusia ini akan senantiasa merindukan dan membesarkan Tuhannya dan sangat taat pada-Nya. Fitrah roh sudah kenal Allah dan mengaku untuk menyembah-Nya. Di dalam Al-Quran ada menceritakan hakikat ini :
“Allah bertanya kepada roh : “Bukankah Aku Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi”
[Al A’raf : 172]
2. Yang berhubungan dengan Syariat.
2.1. Manusia ingin menambah ilmu. Ingin mencari pengalaman dan ingin pandai, dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Manusia tidak mau hidup beku, jahil dan miskin papa. Itu adalah fitrah. Semua orang memilikinya walau apa pun juga bangsa dan agamanya. Memang Allah jadikan jiwa manusia begitu kemauannya. Oleh karena itu Allah datangkan agama Islam yang mengajar supaya manusia mengisi tuntutan fitrah itu. Firman Allah :
Katakanlah : “Berjalanlah kamu di muka bumi, kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang yan mendustakan itu.”
[Al An’am : 11]
Artinya kita disuruh mengembara untuk mencari pengalaman. Rasulullah SAW bersabda:
“Menuntut ilmu wajib bagi lelaki dan wanita”
(Riwayat Ibnu Abdi Al Barri)
Sabdanya lagi :
“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”
Begitulah yang dikatakan Islam agama fitrah. Yakni apabila sesuatu itu disukai oleh fitrah maka Islam mendorong atau membenarkannya. Disebabkan Allah yang menjadikan fitrah manusia itu demikian maka Allah pun datangkan cara bagaimana keinginann fitrah itu disalurkan. Tanpa petunjuk dari Allah, nafsulah yang akan memimpin manusia untuk melaksanakan kehendak fitrah itu secara membabi buta. Kesannya akan buruk sekali.
Misalnya apabila ilmu yang dituntut itu ilmu yang haram (ilmu sihir atau ilmu yang tidak dikaitkan dengan tauhid dan jiwa sufi) maka ia akan membawa akibat buruk. Walaupun adakalanya ilmu itu bersumber dari Islam, tetapi tanpa dikaitkan dengan tauhid dan akhlak, ia akan menyebabkan manusia sombong, dengki, bakhil, pemarah, rasuah, dan lain-lain.
Demikian juga halnya kalau mengembara yang tidak dikendalikan oleh syariah atau tidak diniatkan karena Allah atau untuk kebaikan ia akan membawa hasil yang buruk. Sebab itu Islam menurunkan panduan-panduan yang rapi dalam melaksanakan tuntutan fitrah itu.
2.2. Dalam mencari kekayaan yang diinginkan oleh fitrah murni manusia misalnya, Islam tidak melarangnya. Malah Allah mendorong dengan firman-Nya :
”Apabila telah ditunaikan shalat hendaknya kamu bertebaran di muka bumi dan hendaklah kamu cari kurniaan Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak moga-moga kamu dapat kemenangan”
[Al Jumaah : 10]
Nabi SAW bersabda yang artinya :
“Berniagalah karena sembilan puluh persen dari rezeki itu ada dalam perniagaan”
Tapi mencari harta tidaklah boleh dibuat secara sewenang-wenang. Islam mengatur cara-cara yang bersih dari riba, penipuan dan tindas-menindas, karena hal-hal yang buruk itu bertentangan dengan fitrah. Hasilnya tidak untuk berfoya-foya, berjudi atau membekukannya dalam bank, tapi untuk kebaikan seperti membantu fakir miskin, membangun proyek yang memenuhi keperluan masyarakat atau membantu usaha jihad fisabilillah. Hal ini diatur begitu rupa karena ia sesuai dengan fitrah. Sebaliknya apa yang Islam halangi adalah bertentangan dengan fitrah.
2.3. Siapa saja, tanpa melihat apakah orang itu Islam atau yang bukan Islam suka kepada makanan sedap; lelaki suka pada perempuan, perempuan suka pada lelaki; ingin mempunyai badan yang sehat dan pikiran yang waras. Begitulah fitrah manusia. Kalau keinginan fitrah ini tidak tercapai, manusia akan rasa susah dukacita dan gelisah. Allah yang menciptakan manusai sedemikian rupa, tahu cara yang sebaik-baiknya untuk manusia mencapai keinginan-keinginan itu, dan tahu juga cara-cara yang dapat merusakkan manusa dalam usaha mereka mencapai keinginan-keinginan itu. Oleh sebab itu Allah rela menurunkan petunjuk bagaimana keinginan itu bisa dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Islam tidak menghalangi keinginan fitrah tetapi tidak juga terlalu membiarkan keinginan itu dipenuhi secara membabi buta. Makan sedap, misalnya, diperbolehkan dengan syarat Jangan makan makanan yang haram atau berlebihan. Malah, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sunat hukumnya makan daging seminggu sekali.
Demikian juga Islam menunaikan keinginan fitrah manusia untuk menikah. Ia memang dianjurkan oleh Rasulullah SAW :
“Menikah itu adalah Sunnahku, siapa yang benci pada Sunnahku ini bukanlah ia dari umatku”
Hadis lain berbunyi :
“Dua rakaat shalat orang yang menikah lebih baik dari 70 rakaat shalat orang bujang”
Demikianlah indahnya Islam. Dalam usaha mengelakkan masalah dalam perkawinan, maka ditentukan syarat rukunnya yang wajib dipenuhi. Tanpa memenuhi syarat, rumah tangga akan goyang dan tumbang. Islam membenarkan menikah dan mengharamkan zina. Sebab zina akan menzalimi dan menganiaya kaum wanita. Anak hasil perzinaan yang tidak tentu bapaknya ini akan terlunta-lunta hidupnya. Ke mana anak itu akan membawa diri ? Hal ini tidak ada siapapun yang suka. Fitrah menolak. Sebab itulah Allah mengharamkannya karena ia bertentangan dengan fitrah. Bagaimana tidak, seseorang yang berzina itu akan melibatkan baik itu ibu orang atau isteri orang atau anak perempuan orang. Siapa pun akan marah kalau keluarganya yang terlibat. Kalau begitu sanggupkah kita berzina sedangkan kita sendiri tidak suka perkara itu terjadi dalam keluarga kita ?
Dalam Islam ada kaedah :
Tidak mudharat dan tidak memberi mudharat.
Contohnya “
1. Kawin boleh, tapi jangan dengan isteri orang.
2. Kaya boleh, tapi jangan cara mencuri atau menipu uang rakyat.
Tidak ada orang, baik itu Islam atau bukan Islam, yang menganggap zina itu baik. Kalau terjadi juga, itu karena manusia sudah jadi syaitdan dan nafsunya sudah jahat sekali. Namun hati kecilnya tetap menolak; artinya dia senantiasa dalam keadaan melawan hati kecilnya. Orang ini tidak tenang hidupnya. Dia diburu rasa bersalah dan berdosa sepanjang masa.
2.4. Akhlak yang baik, budi pekerti yang mulia yakni berbuat kebaikan sesama manusia sehingga dapat menghibur hati manusa, semua orang suka. Bagi orang yang suka menyakiti hati orang lain sebetulnya dia pun tidak mau orang lain menyakiti hatinya dan suka kalau ia dihibur. Begitulah fitrah. Maka Islam agama fitrah ini datang memerintahkan agar manusia berakhlak baik sesama manusia. Sabda Rasulullah SAW, Sebaik-baik manusia ialah manusia yang paling banyak membuat kebaikan untuk manusia lain.
Dengan itu, siapa saja yang berakhlak buruk dengan sesama manusia, seperti sombong, bakhil, hasad dan lain-lain, berarti dia menentang Allah dan juga menentang fitrahnya. Orang begini bukan saja dimurkai Allah tapi dia membenci dirinya sendiri. Hidupnya tidak akan tenang dunia akhirat.
Kalau manusia saling mengisi fitrah, aman damailah masyarakat. Tapi apa yang terjadi sekarang kita susahkan orang tapi minta orang jangan susahkan kita. Al hasil sengketa semakin merata.
Begitulah uraian tentang indahnya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Dan siapa yang tidak ikut Islam artinya menentang fitrahnya. Walaupun mereka kaya-raya, mempunyai jabatan tinggi dan banyak ilmu, tidak akan tenang hidup mereka di dunia apalagi di akhirat. Karena bukan saja dia bermusuhan dengan Allah tapi juga bermusuhan dengan dirinya sendiri. Pada lahirnya manusia nampak ia senang-senang tapi hatinya hanya Allah saja yang tahu; kosong, gelisah, tersiksa, serba salah dan mudah marah.
Di Barat hari ini, orang yang kelihatan bijak pandai dan hidup senang dilaporkan banyak yang terkena sakit jiwa. Sehingga jumlah orang yang masuk rumah sakit jiwa melebihi jumlah orang yang masuk ke universtas dan kolej. Di Timur, umat Islam yang sudah rusak imannya karena terlalu menuruti nafsunya sedang menghadapi hal yang sama. Cara hidup yang mereka pilih telah menghantarkan mereka ke lembah masalah dan kesusahan.
Hanya Islam satu-satunya agama yang sistem hidupnya benar dan terbaik untuk diikuti. Yakni kehidupan Sunnah yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin serta semua salafussoleh. Dengan mencontohi mereka, niscaya manusia akan kembali kepada fitrah murninya dan akan bahagia di dunia dan akhirat. Antara ciri-ciri hidup mereka adalah :
1. Beriman dan bertaqwa
2. Beribadah dan berzikir.
3. Berakhlak mulia dengan Allah dan sesama manusia.
4. Berjuang dan berjihad dengan Allah dan sesama manusia.
5. Berkorban pada jalan Allah.
6. Menuntut ilmu dunia dan akhirat untuk melaksanakannya.
7. Bekerja mencari rezeki yang halal, di samping membangunkan tamadun ummah.
8. Taat dan patuh pada Allah, pada Rasul dan pada pemimpin yang taat kepada Allah.
9. Berkasih sayang.
10. Saling membantu dalah kebaikan dan menolak kejahatan.
11. Bermaaf-maafan.
12. Bertenggang rasa di seputar masalah atau di sudut-sudut yang dibolehkan.
Langgan:
Entri (Atom)
